6 Langkah Mendisiplinkan Anak Tanpa Teriakan

mendisiplinkan anak tanpa teriakan

Pernahkah Anda membentak anak Anda ? Terkadang, bagi sebagian orangtua, berteriak membentak anak merupakan sebuah momen yang sulit dihindarkan ketika sudah merasa kehilangan akal. Namun bagi sebagian orang tua justru bersikap keras dan membentak anak-anak mereka diyakini sebagai cara yang paling efektif untuk mendisiplinkan anak, dan menjadikan hal itu sebuah kebiasaan. Sayangnya, berteriak adalah salah satu cara mendisiplinkan yang benar-benar tidak efektif, bahkan bisa menimbulkan masalah perilaku pada anak.

Apapun alasan kita, pada kenyataannya kita tidak akan mampu mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mengelola perilaku mereka yang lebih baik, dengan cara berteriak membentak mereka. Membentak adalah cara yang sangat gampang namun primitif dalam menyelesaikan masalah. Masalahnya adalah, ketika cara gampang ini dipergunakan, kita cenderung enggan melakukan cara lain yang dirasakan lebih ribet. Ketika seorang anak terbiasa berteriak atau memukul saudaranya, ia tidak akan pernah belajar bagaimana untuk menyelesaikan masalah secara damai. Anda bisa bayangkan bagaimana masa depan anak-anak kita bila dibiarkan terbiasa menyelesaikan masalah dengan teriakan bukan? Ada banyak strategi disiplin lain yang lebih efektif mengajar anak-anak untuk meningkatkan perilaku mereka.

1. Membuat Aturan yang Jelas

Buat aturan yang jelas mengenai tugas dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Buatlah daftar tertulis aturan rumah tangga yang dipampang secara jelas.

Hal ini membantu mengingatkan anak-anak apa yang Anda harapkan dari mereka. Hal ini juga berfungsi sebagai pengingat yang baik untuk Anda tentang mana perilaku perlu ditangani.

Lakukan evaluasi dan bila perlu revisi daftar yang diperlukan dari waktu ke waktu.

2. Diskusikan Konsekuensi Negatif Terlebih Dahulu

Jelaskan konsekuensi negatif bagi yang melanggar aturan untuk anak Anda ke depan. Jelaskan bagaimana Anda akan menegakkan aturan. Diskusikan mengenai tenggat waktu dalam penugasan maupun penanaman disiplin, bentuk hukuman , atau menggunakan konsekuensi logis untuk membantu anak belajar dari kesalahannya.

Buat rencana ke depan mengenai bagaimana menangani perilaku. Memiliki rencana dapat membantu Anda menanggapi masalah perilaku dengan cara yang efektif, bukan dengan berteriak.

3. Lakukan Penguatan Positif

Motivasi anak Anda untuk mengikuti aturan dengan menggunakan penguatan positif. Bila ada konsekuensi negatif untuk sebuah pelanggaran aturan, maka juga harus ada konsekuensi positif untuk tindakan yang mengikuti aturan.

Penguatan postif sederhana seperti memuji anak Anda ketika mengikuti aturan akan dapat membantu mencegah masalah perilaku. Berikan kepada anak Anda perhatian positif untuk mengurangi perilaku ‘cari perhatian’.

Saat anak Anda sedang berjuang dengan masalah perilaku tertentu, sistem reward akan sangat efektif dalam membantu hal ini. Reward sederhana seperti memberi bintang (bisa berbentuk sticker, bintang kertas, atau bahkan sekedar tulisan tanda bintang yang dipampang di white board) bekerja dengan baik untuk anak-anak, sementara reward berupa hadiah barang atau uang dapat efektif dengan anak-anak yang lebih tua. Sistem Reward dapat membantu memperbaiki masalah perilaku cepat.

4. Periksa Alasan Mengapa Anda Membentak

Ketika suatu saat Anda berteriak pada anak Anda, renungkanlah kembali alasannya mengapa. Bila Anda berteriak karena marah, maka pelajari strategi untuk menenangkan emosi Anda sehingga Anda akan bisa menjadi panutan dalam hal mengontrol kemarahan yang baik bagi anak Anda. Ambil waktu untuk mengontrol pikiran menjengkelkan dan tunggu sampai Anda dapat mendisiplinkan anak Anda dengan tenang.

Jika Anda berteriak karena Anda merasa anak Anda tidak didengarkan, mencoba strategi baru yang akan mendapatkan perhatian anak Anda. Memberikan anak Anda konsekuensi negatif akan jauh lebih efektif daripada menaikkan suara Anda.

Akhirnya, jika Anda berteriak karena merasa putus asa, maka kembangkan rencana lanjutan untuk mengatasi perilaku. Seringkali, orang tua berteriak dengan memberikan ancaman kosong namun sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Hal ini tentu akan tampak oleh anak Anda, dan mereka akan bersikap menyepelekan.

5. Berikan Peringatan

Alih-alih berteriak, memberikan anak Anda peringatan pada saat yang tepat akan jauh lebih efektif. Tentu, jika anak Anda melakukan hal-hal yang membahayakan atau terlarang seperti memukul saudaranya, maka tindakan itu harus diberikan konsekuensi langsung, tanpa peringatan. Namun, jika Anda telah mengatakan kepadanya untuk mengambil mainan dan dia tidak melakukannya segera, maka memberi peringatan akan efektif.

Bentuk peringatan seperti “Jika … maka” merupakan cara efektif untuk memperingatkan anak-anak tentang konsekuensi jika mereka tidak mengikuti arah Anda. Menghitung sampai tiga, adalah cara lain untuk memperingatkan anak-anak tanpa berteriak.

Berteriak sering menyebabkan perebutan kekuasaan. Semakin Anda berteriak anak untuk melakukan sesuatu, semakin dia akan cenderung berperilaku menantang. Namun, memberikan peringatan bahwa Anda berencana untuk menegakkan aturan menunjukkan kepada anak Anda bahwa Anda serius.

6. Penegakkan aturan

Tindaklanjuti dengan konsekuensi jika anak Anda tidak mendengarkan. Hindari omelan atau mengulangi peringatan berulang-ulang. Sebaliknya, menindaklanjuti dengan konsekuensi akan menunjukkan bahwa apa yang Anda katakan benar-benar harus diperhatikan. Jika Anda merasa bahwa konsekuensi yang Anda gunakan ternyata tidak efektif, cobalah konsekuensi yang berbeda waktu berikutnya.

Tegakkan aturan secara konsisten untuk menunjukkan anak Anda bahwa suatu perilaku tertentu tidak dapat diterima. Penegakkan disiplin yang konsisten adalah kunci untuk mengubah perilaku anak menjadi lebih baik.