Komplikasi Autisme – Pusat Penjualan Brainking Plus Indonesia

Orang Tua Harus Berhati-hati, Anak Penderita Autisme Ternyata Beresiko Mengalami 5 Masalah Ini

Orang tua manapun tentu menginginkan anaknya dapat tumbuh sehat serta berkembang dengan baik. Siapapun ia, pastinya akan merasa khawatir jika si buah hati ternyata mengalami gangguan perkembangan, misalnya seperti mengidap autisme.

 

Autisme sendiri merupakan gangguan pada perkembangan syaraf yang biasanya ditandai dengan beberapa gejala, di antaranya seperti masalah dalam perkembangan bahasa, interaksi sosial, dan komunikasi.

 

Autisme akan sangat mempengaruhi kemampuan si buah hati dalam berkomunikasi. Tingkat keparahannya pun berbeda, mulai dari sindrom asperger yang cukup ringan, sampai tingkatan yang sangat parah.

 

Penderita autis ringan biasanya masih dapat menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lainnya. Namun jika autis yang dialaminya cukup parah, mereka sangat memerlukan perhatian, perawatan, serta dukungan untuk menjalani kehidupannya.

 

Akan tetapi, baik itu tergolong ringan ataupun berat, semuanya tetap membutuhkan penanganan segera. Mereka semua tetaplah generasi penerus kita yang juga punya masa depan.

 

Terlebih lagi, penanganan autisme beresiko menjadi semakin sulit seiring bertambahnya usia si buah hati. Padahal, autisme dapat memicu masalah perkembangan lain yang tentunya akan mempengaruhi masa depannya.

Komplikasi Autisme

Ada beberapa gangguan berbahaya lain yang beresiko dialami oleh anak penderita autis, di antaranya adalah gangguan sensorik, gangguan mental, kejang, Tuberous sclerosis, serta beberapa komplikasi lainnya.

#1. Gangguan Sensorik

Gangguan sensorik (SPD) merupakan kondisi dimana anak mengalami kesulitan untuk menanggapi rangsangan sensorik yang ia terima dari lingkungan.

 

Dalam banyak kasus, hal tersebut mengakibatkan anak sangat sensitif terhadap suara yang berisik, cahaya yang terlalu terang, makanan dengan tekstur berbeda, sehingga membuatnya terganggu atau bahkan marah.

 

Sebagian kasus lainnya, gangguan sensorik justru membuat anak sama sekali tidak merespon rangsangan yang ia terima dari lingkungan, seperti tidak merespon sensasi panas, dingin, atau bahkan rasa sakit.

#2. Gangguan Mental

Selain memiliki gangguan sensorik, penderita autisme juga beresiko mengalami gangguan mental seperti rasa cemas yang berlebih, khawatir, stres, perilaku impulsif, dan gangguan suasana hati.

 

Kecacatan pada kromosom X menjadi faktor yang mengakibatkan penderita autisme mengalami gangguan mental. Hal ini lebih banyak terjadi pada penderita autis laki-laki dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

#3. Mengalami Kejang

Pada banyak kasus, anak penderita autisme juga kerap ditemukan mengalami kejang. Gejala tersebut biasanya muncul di usia kanak-kanak atau saat mereka remaja.

#4. Tuberous Sclerosis

Tuberous sclerosis merupakan suatu penyakit langka dimana tumor jinak (non kanker) berkembang di banyak anggota tubuh seperti paru-paru, mata, ginjal, jantung, kulit, bahkan otak.

 

Faktor gangguan pada kromosom atau mutasi DNA yang dialami oleh penderita autisme sering kali menjadi pemicu timbulnya penyakit ini.

#5. Komplikasi Lainnya

Penderita autisme juga beresiko mengalami beberapa komplikasi lain, di antaranya seperti pola tidur atau pola makan yang tidak biasa, masalah pencernaan, karakter yang agresif, dan sebagainya.

Pentingnya Mengatasi Autisme Sedini Mungkin

Berkat penanganan yang tepat serta dilakukan sedini mungkin, banyak penderita autisme yang akhirnya bisa tumbuh layaknya anak-anak normal. Mereka dapat menjalani kehidupan dengan produktif dan mandiri.

 

Usia 0 sampai 5 tahun adalah masa emas perkembangan anak. Menangani autisme tentu akan lebih efektif jika dilakukan dalam rentang usia ini. Semakin besar usianya, maka autisme yang dideritanya pun beresiko semakin sulit pula untuk ditangani.

 

Bagaimana jika usia anak sudah melewati masa itu? Segera melakukan penanganan tetap lebih baik daripada membiarkannya atau menundanya lebih lama lagi. 

 

Selain dilakukan sedini mungkin, langkah penanganannya pun harus tepat. Salah penanganan hanya akan membuahkan hasil yang sia-sia. Atau bahkan parahnya lagi, kondisi yang dialami si buah hati malah semakin memburuk.