Terbukti! Seperti Ini Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak

Cara Mengatasi Kesulitan Belajar

Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak – Di era globalisasi saat ini, kesulitan belajar (learning disability) pada anak merupakan salah satu masalah yang cukup banyak terjadi. Selaku orang tua, tentu kita perlu mencari cara mengatasi kesulitan belajar pada anak demi masa depannya bukan?

Ada beberapa faktor yang dianggap mempengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Kesulitan belajar dapat dipengaruhi akibat gangguan pada fungsi otak dan syaraf, masalah pada konsentrasi dan ingatannya, faktor psikologis, atau karena passionnya berada di bidang lainnya.

Perlu ditekankan sebelumnya, sebagai orang tua, kita tidak perlu berkecil hati atas kekurangan yang dimiliki sang anak. Anak yang memiliki kesulitan dalam belajar bukan berarti ia bodoh dan tidak memiliki masa depan yang cerah. Selain itu, tidak sedikit solusi dan cara mengatasi kesulitan belajar pada anak.

Yakini bahwa di samping kekurangan yang ia miliki, ia memiliki potensi terbuka dalam bidang lainnya. Yang mereka butuhkan hanyalah dukungan dari Anda selaku orang tua, dengan tidak melabelinya sebagai “anak bodoh”, tetap bangga memilikinya, dan tidak luput untuk mencarikan solusi terbaik untuknya.

Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak

Sejatinya, setiap anak memiliki kondisi otak yang sama ketika dilahirkan. Terkecuali anak-anak yang memang menderita gangguan perkembangan seperti autis, down syndrome, ADHD (hiperaktif), cerebral palsy, atau anak-anak yang memang berkebutuhan khusus lainnya.

Otak Anda, anak Anda, juga saya, memiliki kondisi yang sama dengan B.J Habibie ketika semuanya baru terlahir. Kosong. Semuanya belum berkembang dan tidak terisi apa-apa. Kemudian berbagai faktor mulai mempengaruhi perkembangannya. Di antaranya adalah bagaimana cara ia belajar dan asupan nutrisi yang membantu perkembangannya.

Tahukah Anda? Tidak sedikit tokoh ilmuwan ternama yang pada masa kanak-kanaknya memiliki kesulitan dalam belajar. Thomas Alfa Edison diusir dari sekolah karena dianggap terlalu bodoh, Albert Einstein belum mampu berbicara hingga usia 4 tahun, serta masih banyak lagi kasus-kasus sejenisnya.

Lalu bagaimana cara agar buah hati kita dapat terlepas dari masalah kesulitan belajar? Berikut ini merupakan beberapa cara yang perlu Anda lakukan selaku orang tua untuk mengatasi kesulitan belajar anak Anda.

#1. Periksa Kepada Ahlinya

Ketika anak kita cukup kesulitan dalam belajar, tak ada salahnya untuk memeriksakan kondisinya kepada ahlinya. Cobalah untuk berkonsultasi dengan orang yang mempunyai cukup ilmu di bidang psikologi anak mengenai kondisi buah hati Anda. Jangan lupa untuk meminta saran mengenai tindakan yang sebaiknya Anda lakukan sebagai orang tua.

#2. Fokus Pada Kelebihannya dan Berikan Motivasi

Di samping kekurangan seseorang, ia pasti memiliki kelebihan pula. Pahami apa yang menjadi kelebihan buah hati Anda. Kemudian fokuslah untuk mengembangkan bakatnya di sana. Ingat! Orang-orang sukses di luar sana adalah mereka yang fokus pada bidangnya, bukan mereka yang multi talenta namun tidak maksimal dalam kemampuannya.

Jangan lupa untuk senantiasa memberikan motivasi kepada anak Anda. Yakinkan mereka bahwa mereka akan sukses di bidang yang mereka kuasai. Tidak perlu pula membanding-bandingkannya dengan anak lain karena dapat menghancurkan semangatnya.

#3. Gunakan Cara Belajar yang Berbeda

Setiap orang, khususnya anak-anak, semuanya memiliki gaya belajarnya masing-masing. Cobalah terapkan beragam gaya belajar kepadanya, kemudian fokuslah pada gaya belajar yang cenderung lebih mudah bagi mereka. Selain itu, kebanyakan anak yang kesulitan belajar sebenarnya hanya tidak cocok dengan gaya belajar yang mereka lakukan.

#4. Ajak Lingkungan Untuk Turut Mendukungnya

Sangat disayangkan apabila semangatnya menjadi turun akibat orang-orang di sekitarnya. Untuk itu, ajaklah guru-gurunya, teman-temannya, keluarga dan saudara-saudaranya untuk selalu mendukungnya. Jangan sampai ia merasa lebih buruk dari mereka yang berada di sekitarnya, apalagi hingga mendapat hinaan yang menghancurkan semangatnya.

#5. Mengkonsumsi Brainking Plus

Selain itu semua, dibutuhkan pula asupan nutrisi terbaik demi mengoptimalkan fungsi kerja otaknya. Otak yang senantiasa memperoleh asupan nutrisi yang cukup, tentu akan mampu bekerja lebih optimal. Hal itu tentu sangat mempengaruhi kemampuan belajar sang anak.

Brainking Plus merupakan nutrisi terbaik bagi otak. Produk ini dibuat dari bahan-bahan alami yang terseleksi. Sehingga, selain menghasilkan khasiat yang luar biasa, Brainking Plus juga sangat aman dikonsumsi untuk segala kalangan.

Khasiat Brainking Plus sangat luar biasa. Bahkan tidak sedikit testimoni yang menyatakan perkembangan luar biasa dari mereka yang mengkonsumsinya. Mulai dari semakin fokus dalam belajar, daya ingat bertambah, IQ dan kecerdasan meningkat, hingga menangani berbagai masalah perkembangan otak dan syaraf.

Pilihan Jenis Terapi Bagi Anak Down Syndrome

Terapi Anak Down Syndrome

Terapi Anak Down Syndrome – Down syndrome merupakan salah satu tipe keterbelakangan mental yang cukup sering terjadi. Kondisi seperti ini terjadi pada anak-anak yang terlahir dengan jumlah kromosom yang tidak normal.

Kondisi ini mengakibatkan sang anak mengalami keterbelakangan mental, kondisi fisik yang khas, dan kemampuan intelektual yang berada di bawah rata-rata. Anak-anak yang menderita down syndrome juga biasanya memiliki ciri fisik yang terbilang mirip.

Sama halnya seperti terlahir tanpa memiliki tangan, sampai ia dewasa pun tangannya tidak akan tumbuh. Begitu pula penderita down syndrome. Jumlah kromosom yang tidak normal tidak akan berubah hingga ia dewasa, sehingga gangguan ini tidak bisa disembuhkan.

Akan tetapi, bukan berarti kelainan ini sama sekali tidak bisa ditangani. Anak-anak penderita Down syndrome juga tetap bisa hidup bahagia. Gejala-gejala yang ia alami dapat ditekan melalui proses terapi anak Down syndrome. Berikut ini beberapa jenis terapi untuk menangani Down syndrome.

Terapi Anak Down Syndrome yang Paling Harus Dilakukan

Pada dasarnya, ada 2 jenis metode terapi bagi anak penderita Down syndrome. Terapi ini merupakan jenis terapi yang paling utama dan sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, terapi ini juga sudah digunakan sejak dahulu.

#1. Terapi Fisik (Physio Therapy)

Otot yang dimiliki oleh penderita Down syndrome sangat lemah. Bahkan untuk berjalan sekalipun, kondisi otot tersebut tidak memungkinkannya. Oleh karena itu, jenis terapi fisik inilah yang menjadi solusi. Dengan terapi fisik ini, penderita Down syndrome akan dilatih, dibantu, dan didukung agar mampu berjalan dengan baik.

#2. Terapi Wicara

Selain memiliki otot yang lemah, anak-anak penderita Down syndrome juga sering kali mengalami keterlambatan dalam berbicara. Melalui proses terapi wicara ini, mereka akan dibantu dalam memahami kosa kata dan berbicara.

Terapi Anak Down Syndrome Dengan Brainking Plus

Selain menerapkan kedua jenis terapi tadi, dibutuhkan pula asupan nutrisi ke otak untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Jika gangguan pada tumbuh kembangnya tidak ditangani, maka pemberian terapi akan kurang efektif tentunya.

Oleh karena itu, Brainking Plus dibuat untuk menangani masalah ini. Brainking Plus bekerja secara holistik dan langsung memperbaiki sumber kerusakannya. Brainking Plus juga memberikan asupan nutrisi terbaik ke otak demi mengoptimalkan tumbuh kembangnya.

Brainking Plus sendiri merupakan produk herbal terbaik dan “pakar” dalam menangani berbagai masalah gangguan perkembangan, otak, dan juga syaraf. Produk ini juga dikenal sebagai pelopor vitamin otak di Indonesia.

Brainking Plus terbuat dari 100% bahan-bahan alami. Bahan-bahan tersebut diseleksi demi memperoleh kualitas terbaik. Dengan begitu, Brainking Plus sangat efektif dalam menangani berbagai masalah perkembangan dan tentunya aman dikonsumsi.

Tidak hanya efektif dalam menangani anak-anak penderita Down syndrome. Brainking Plus juga telah terbukti sangat baik dalam mengatasi autisme, ADHD (anak hiperaktif), cerebral palsy, dan berbagai masalah perkembangan lainnya.

Berikan Brainking Plus secara rutin untuk anak yang mengalami down syndrome. Sudah banyak sekali penderita Down syndrome yang tertolong dengan produk ini. Memberikan Brainking Plus yang dibarengi dengan terapi tentunya akan memaksimalkan penanganan Down syndrome ini.

Jenis Terapi Lainnya Untuk Mengoptimalkan Tumbuh Kembangnya

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, variasi terapi untuk anak yang mengalami down syndrome semakin banyak. Bahkan terapi-terapi tersebut dibuat semakin spesefik dalam menangani gejala-gejala tertentu demi memperoleh hasil terbaik

Beberapa terapi lain yang dianjurkan antara lain:

  • Terapi Okupasi
  • Terapi Tingkah Laku
  • Terapi Remedial
  • Terapi Sensori Integrasi

Terapi Alternatif

Lebih dari itu, saat ini dikenal pula terapi alternatif. Terapi ini memberikan solusi penanganan dengan cara-cara yang tergolong unik namun tetap efektif dalam menangani gejala Down syndrome ini. Berikut beberapa jenis Terapi alternatif bagi anak Down syndrome:

  • Terapi Musik
  • Terapi Craniosacral
  • Terapi Lumba-lumba
  • Terapi Akupuntur

Mengenali Gejala Anak Autis Sejak Dini

gejala autis

Mengenali Gejala Anak Autis Sejak Dini – Sebagai orang tua, memperhatikan tumbuh kembang anak adalah hal yang sudah sepatutnya dilakukan. Ada baiknya kita mempelajari gejala-gejala yang timbul jika ada gangguan perkembangan pada buah hati kita. Misalnya seperti memahami gejala anak autis.

Autis atau autisme merupakan salah satu bentuk gangguan tumbuh kembang pada anak yang terbilang kompleks. Perkembangan syaraf akan terganggu dan mempengaruhi kemampuannya dalam berinteraksi, bertingkah laku, serta berkomunikasi.

Mengetahui gejala-gejala autis pada anak perlu dilakukan sedini mungkin. Dengan begitu, sebagai orang tua, kita dapat segera melakukan penanganan selagi gangguan ini masih dapat ditangani. Harapannya, anak tersebut masih dapat dioptimalkan tumbuh kembangnya, atau setidaknya gejala anak autis yang dialaminya dapat ditekan.

Ciri Umum dan Gejala Anak Autis

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Autisme merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhi anak dalam kemampuan berinteraksi, prilaku, serta komunikasi. Oleh sebab itu, gejala-gejala yang timbul pun tidak akan jauh dari 3 hal tersebut.

Ada cukup banyak gejala autisme yang dapat diketahui. Berikut ini merupakan beberapa gejala anak autis yang cukup umum dan sering terjadi.

#1. Gejala Anak Autis Dalam Hal Komunikasi

Akibat gangguan perkembangan yang dialaminya, anak penderita autisme memiliki gangguan dalam berkomunikasi. Penderita autisme biasanya berbicara dengan intonasi yang datar, terkesan kaku, dan terkadang menggunakan bahasa baku. Seolah-olah mereka tidak dapat mengungkapkan ekspresi yang mereka rasakan sendiri.

Menurut data yang ada, 4 dari 10 anak penderita autis hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja atau tidak bisa sama sekali. 2 Hingga 3 anak mampu mengucapkan beberapa kata pada usia 12-18 bulan, kemudian kehilangan kemampuannya. Sedangkan sisanya baru mampu berbicara saat mencapai usia tertentu.

#2. Gejala Dalam Tingkah Laku

Anak penderita autis biasanya memiliki tingkah laku yang terlihat cukup aneh. Di antaranya adalah terdapat suatu pola yang diulang-ulang dalam prilakunya. Mereka akan merasa terganggu apabila terjadi perubahan pada rutinitasnya.

Salah satu contoh yang cukup sering terjadi pada anak autis adalah menyusun benda. Sering kali, mereka sangat gemar menyusun atau menumpukkan benda-benda yang sebenarnya tak ada gunanya. Namun mereka sangat terobsesi pada aktifitas seperti itu.

#3. Gejala Dalam Berinteraksi Sosial

Anak-anak autis terlihat seperti memiliki dunianya sendiri. Mereka tidak terdorong untuk berinteraksi dan bersosial dengan lingkungannya. Mulai dari sebatas merasa canggung ketika berkumpul, mengeluarkan perkataan yang menyinggung orang lain, hingga benar-benar memisahkan diri dari kehidupan bersosial.

Saat diajak berkomunikasi, penderita autis akan menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya. Selain itu, mereka juga tidak menyukai bergaul dengan teman-teman seusianya dan lebih memilih bermain seorang diri.

#4. Gejala Anak Autis Dalam Kepekaan Terhadap Lingkungan

Bukan hanya tidak memiliki kemampuan dalam berinteraksi sosial, anak-anak autis juga tidak memiliki empati terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk memahami perasaan orang lain.

Akan tetapi, kemampuan berempati ini masih dapat diatasi melalui terapi. Mereka perlu dilatih perlahan-lahan supaya lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya dan lebih mempertimbangkan perasaan orang lain.

#5. Gejala Dalam Perkembangan

Anak penderita autis sering kali terlihat tidak seimbang dalam tumbuh kembangnya. Dalam beberapa hal, mereka akan terlihat dapat berkembang dengan sangat cepat. Namun dalam hal lainnya, mereka justru akan terlihat sangat lamban.

Salah satu kasus yang cukup sering terjadi adalah perbandingan perkembangan intelektual dengan perkembangan bicaranya. Dalam bidang intelektual, mereka sangat cepat menguasainya. Namun dalam berkomunikasi, mereka akan cenderung tampak tidak mengalami perkembangan.

Faktor-faktor Penyebab Autis Pada Anak

Faktor-faktor Penyebab Autis Pada Anak

Faktor-faktor penyebab autis pada anak – Penelitian mengenai autisme sudah sangat sering dilakukan. Namun sayangnya, hingga saat ini penyebab autis pada anak masih belum bisa diketahui secara pasti. Penelitian masih perlu dilakukan lebih lanjut lagi untuk mengetahui apa penyebab utama autis pada anak.

Menurut data yang ada, sekitar 85% anak-anak penderita autis tidak diketahui penyebabnya. Kondisi tersebut dikenal juga dengan istilah idiopathic autism. Walaupun begitu, para ilmuwan juga sudah menduga beberapa faktor yang dianggap berpotensi menjadi pemicu terjadinya autis pada anak.

Seperti yang kita ketahui, autisme merupakan suatu kondisi pada anak dimana terdapat gangguan pada perkembangan sel syarafnya. Akibatnya, hal itu akan mempengaruhi kemampuan sang anak dalam berkomunikasi, tingkah laku dan berinteraksi sosial.

Penyebab Autis Pada Anak

Faktor keturunan (genetika) dan faktor lingkungan diduga mempunyai peranan penting dalam menyebabkan autisme pada anak. Namun pada kasus-kasus lainnya, autisme pada anak juga dapat dipicu karena penyakit lainnya.

Penyebab Autis Pada Anak Karena Faktor Keturunan (Genetika)

Para ahli menduga bahwa faktor keturunan merupakan salah satu pemeran utama dalam menyebabkan autisme pada anak. Hal tersebut diakibatkan karena adanya peningkatan resiko autis pada anak-anak yang memiliki saudara pengidap autis pula.

Hal itu juga terbukti melalui fakta banyaknya pengidap autisme pada anak kembar identik yang memiliki gen serupa. 90% Anak pengidap autis memiliki saudara kembar yang mengidap autis pula. Selain itu, jika seorang anak memiliki saudara yang mengidap autisme, maka ia juga memiliki potensi lebih tinggi untuk mengidap autisme.

Penyebab Autis Pada Anak Karena Faktor Lingkungan

Selain faktor keturunan (genetika), faktor lainnya yang diduga memiliki peranan penting dalam menyebabkan autisme adalah faktor lingkungan. Walaupun masih dalam proses penelitian lebih lanjut, namun faktor lingkungan diduga kuat mampu memicu autisme pada anak.

Faktor lingkungan yang dimaksud meliputi banyak hal, di antaranya adalah kondisi usia orang tua, riwayat kesehatan keluarga, komplikasi ketika masa kehamilan dan kelahiran, hingga infeksi virus, racun serta polusi yang mencemari lingkungan sekitarnya.

Faktor-faktor Lainnya yang Juga Diduga Menjadi Penyebab Autis Pada Anak

Faktor-faktor yang menyebabkan seorang anak mengidap autis sering kali berbeda-beda kondisinya. Itulah sebabnya para ahli kesulitan untuk memastikan faktor penyebab utama autis pada anak. Autisme diduga timbul dan dipicu oleh faktor-faktor yang berbeda pada setiap pengidapnya.

Melihat kasus-kasus pengidap autisme yang telah ada, para ahli mulai menyimpulkan beberapa faktor lain yang juga diduga dapat memicu terjadinya autisme pada anak. Beberapa faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

  • Melihat autisme yang lebih banyak dialami oleh anak laki-laki, para ahli mengungkapkan bahwa anak laki-laki berpotensi 4 hingga 5 kali lebih besar terserang autisme ketimbang anak-anak perempuan.
  • Orang tua yang mengidap autisme berisiko memiliki anak pengidap autisme pula. Kadang kala, autisme juga dipicu karena orang tua atau riwayat keturunan sebelumnya memiliki gangguan komunikasi dan sosial.
  • Mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan kimia, minuman keras, dan sebagainya selama dalam masa kehamilan juga diduga dapat menjadi penyebab autisme pada anak.
  • Autisme juga dapat timbul karena dipicu oleh gangguan-gangguan perkembangan lainnya seperti Cerebral Palsy (lumpuh otak), down syndrome, sindrom Tourette, neurofibromatosis, distrofi otot, dan lain sebagainya.
  • Bayi yang terlahir dalam keadaan prematur, terlebih lagi yang terlahir pada usia kehamilan 26 minggu ke bawah, memiliki risiko mengidap autisme cukup tinggi daripada bayi yang terlahir pada usia normal.
  • Seorang anak juga memiliki risiko mengidap autisme apabila ia memiliki saudara kandungnya yang juga pengidap autisme.
  • Usia orang tua yang sudah terlalu tua ketika mengandung diduga pula dapat memicu terjadinya autisme pada anak yang dikandungnya.

Satu hal yang perlu ditekankan kembali, faktor-faktor tersebut saat ini belum dapat dipastikan 100% benar. Para ahli dan peneliti masih berupaya untuk mempelajari lebih lanjut lagi mengenai penyebab utama terjadinya autisme ini.

Brainking Plus, Solusi Pengobatan Cerebral Palsy Pada Anak

Pengobatan Cerebral PalsySolusi Pengobatan Cerebral Palsy Pada Anak Paling Ampuh – Menyadari akan gejalanya, juga melakukan penanganan serta pengobatan Cerebral Palsy tentu perlu dilakukan sesegera mungkin. Hal itu perlu dilakukan sebelum tingkat keparahan penyakit ini semakin berat dan menyebabkan ia semakin sulit ditangani.

Pengertian Cerebral Palsy (Lumpuh Otak)

Cerebral Palsy lebih akrab dikenal dengan sebutan Lumpuh Otak. Penyakit ini merupakan suatu kondisi dimana otak dan sel saraf mengalami gangguan perkembangan sehingga mempengaruhi fungsi kerja otak, laju belajar, kemampuan berpikir, pengelihatan, pendengaran, serta kinerja otot penderitanya.

Tidak semua penderita Cerebral Palsy mengalami tingkat keparahan yang serupa. Tingkat keparahan penyakit ini dapat berbeda-beda. Sebagian mengalami kondisi yang cukup ringan, dan tak sedikit pula yang mengalami kondisi yang sangat berat.

Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab utama dari Cerebral Palsy. Beberapa ahli mengatakan bahwa Cerebral Palsy dapat terjadi akibat adanya penyakit, infeksi kesehatan pada ibu hamil, cedera otak pada saat bayi dalam kandungan atau saat melahirkan, akibat bayi terlahir prematur, dan faktor-faktor lainnya.

Ciri-ciri dan Gejala Cerebral Palsy (Lumpuh Otak)

Sebelum kita membahas pengobatan cerebral palsy, mari kita lihat dulu apa ciri-cirinya. Ada beberapa ciri dan gejala yang bisa dideteksi jika seorang anak menderita gangguan Cerebral Palsy ini. Sering kali, ciri dan gejala Cerebral Palsy akan mulai terlihat sebelum penderitanya berusia 3 tahun. Berikut beberapa ciri dan gejalanya.

#1. Penderita Cerebral Palsy Tidak Mampu Menggerakkan Bagian Tubuh Tertentu (Lumpuh)

Anak-anak yang menderita Cerebral Palsy tidak mampu mengkoordinasikan atau menggerakan anggota tubuh tertentu dengan baik. Contohnya seperti tidak mampu berdiri dengan tegak saat seharusnya sudah mampu berdiri, tidak mampu mengangkat kepalanya sendiri, dan sebagainya.

#2. Penderita Cerebral Palsy Mengalami Kesulitan Dalam Melakukan Aktifitas Fisik Tertentu

Anak-anak yang menderita Cerebral Palsy juga akan mengalami kesulitan saat melakukan beberapa aktifitas fisik tertentu yang seharusnya dapat dilakukan dengan mudah dan dengan sendirinya. Misalnya seperti kesulitan ketika buang air, kesulitan saat makan, atau bahkan kesulitan dalam bernafas.

#3. Penderita Cerebral Palsy Memiliki Kemampuan Kognitif yang Rendah

Sering kali, anak-anak penderita Cerebral Palsy memiliki kemampuan kognitif yang rendah. Akan tetapi ini bukanlah ciri mutlak, sebab beberapa anak penderita Cerebral Palsy dapat tumbuh dan berkembang dengan kemampuan kognitif yang normal.

#4. Penderita Cerebral Palsy Mempunyai Otot yang Kaku atau Sangat Lunglai

Otot-otot pada bagian tertentu, seperti kaki dan bagian lainnya akan terasa kaku. Begitu pula dengan tonus otot yang juga terasa kaku atau justru sebaliknya menjadi sangat lunglai. Sedangkan refleks otot masih normal atau bisa berlebih.

#5. Penderita Cerebral Palsy Mengalami Keterlambatan Dalam Tumbuh Kembangnya

Selain memiliki gangguan pada masalah otot, anak-anak penderita Cerebral Palsy juga mempunyai masalah dalam hal tumbuh kembangnya. Perkembangan otak, sel saraf, dan motoriknya terhambat sehingga sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya.

Pengobatan Cerebral Palsy (Lumpuh Otak)

Brainking Plus, Solusi Pengobatan Cerebral Palsy
Brainking-Indonesia.Com

Dalam dunia medis, obat-obatan kimia untuk pengobatan Cerebral Palsy masih belum ditemukan. Obat-obatan kimia hanya diberikan sebatas untuk mengurangi gejalanya semata. Namun di sisi lain, obat-obatan kimia jelas akan memberikan banyak dampak negatif, terutama bagi masa depan sang anak.

Oleh karena itu, BRAINKING PLUS hadir sebagai solusi. Jawaban bagi jutaan anak-anak penderita Cerebral Palsy dan Anak Berkebutuhan Khusus lainnya. BRAINKING PLUS satu-satunya pilihan yang terbukti aman dan paling efektif dalam menangani masalah perkembangan otak dan saraf.

Tidak seperti obat-obatan kimia yang berdampak buruk bagi masa depan sang anak, BRAINKING PLUS dibuat dari 100% herbal pilihan yang aman dikonsumsi. BRAINKING PLUS telah menyelamatkan masa depan jutaan anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk dalam pengobatan Cerebral Palsy.

5 jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Yang Berkaitan Dengan Gangguan Pada Perkembangan Otak dan Syarafnya

Jenis Anak Berkebutuhan Khusus yang Terganggu Perkembangan Otaknya

Jenis Anak Berkebutuhan Khusus Berkaitan Dengan Perkembangan Otak – Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah suatu kondisi dimana seorang anak membutuhkan perhatian khusus yang lebih menyeluruh dan spesifik oleh lingkungan sekitarnya. Anak Berkebutuhan Khusus memiliki gangguan dalam tumbuh kembangnya, sehingga ia tampak berbeda dengan anak-anak normal kebanyakan.

Pada tahun 2015 lalu, jumlah Anak Berkebutuhan Khusus di Indonesia menyentuh angka 1,6 jiwa. Data tersebut tersimpan dalam Data Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud. Diperlukan pemahaman dan penanganan yang baik demi menemukan solusi terbaik.

Tidak selalu berbeda dari segi fisik semata, Anak Berkebutuhan Khusus juga bisa terlihat lain dari segi emosional, mental, bahkan sosial. Karena itu, Anak Berkebutuhan Khusus membutuhkan pendidikan khusus untuk membantu perkembangannya.

Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang Memiliki Gangguan Perkembangan Pada Otak dan Syarafnya

Anak Berkebutuhan Khusus dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Setiap jenis gangguan Anak Berkebutuhan Khusus mempunyai ciri dan gejalanya masing-masing. Berikut beberapa jenis Anak Berkebutuhan Khusus yang memiliki gangguan perkembangan pada otak dan syarafnya.

#1. Autis atau Autisme

Autis atau Autisme merupakan salah satu jenis gangguan pada syaraf yang permasalahannya sangat kompleks. Ia ditandai dengan beberapa gejala seperti kesulitan dalam berkomunikasi, berinteraksi, bersosial, serta tingkah laku yang terbatas.

#2. Asperger Disorder (AD)

Pada dasarnya, Asperger Disorder (AD) ini termasuk ke dalam kategori autisme, dimana penderita akan mengalami kesulitan yang sama dalam berkomunikasi, berinteraksi, bersosial, serta perilakunya. Hanya saja, ia cenderung lebih ringan jika dibandingkan dengan autisme yang dikenal sebagai High-fuctioning autism.

Salah satu perbedaan antara Asperger Disorder (AD) dengan autisme terletak pada kemampuan berbahasanya. Ketimbang penderita autisme, anak-anak yang mengalami Asperger Disorder (AD) memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik.

Walaupun begitu, penderita Asperger Disorder (AD) tidak bisa disebut baik dalam berkomunikasi. Intonasi bicaranya tampak datar, wajahnya kurang berekspresi, dan sering kali ia hanya akan berbicara mengenai hal-hal yang ia minati saja.

#3. Rett’s Disorder (Sindrom Rett)

Rett’s Disorder atau Sindrom Rett merupakan gangguan perkembangan pada fisik, mental, dan sosial yang muncul pada usia balita. Sindrom ini menyerang anak-anak yang sebelumnya normal, namun seiring perkembangannya, ia malah mengalami kemunduran.

Koordinasi motoriknya semakin menurun seiring dengan menurunnya kemampuan bersosial. Salah satu gejalanya ialah dimana seorang anak kehilangan kemampuan berbahasanya secara tiba-tiba. Anak Berkebutuhan Khusus jenis ini didominasi oleh anak perempuan.

#4. Attention Deficit Disorder with Hyperactive (ADHD) atau Hiperaktif

Di Indonesia, ADHD lebih dikenal dengan sebutan anak hiperaktif. Namun perlu diketahui sebelumnya, bahwa tidak semua anak hiperaktif menderita ADHD. Sedangkan penderita ADHD sudah pasti tergolong anak hiperaktif.

Anak Berkebutuhan Khusus jenis ini sangat sulit untuk diam dan tenang. Penderita ADHD selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, bergerak-bergerak, atau memainkan benda-benda. Mereka sangat tidak bisa diam, sekalipun itu hanya 5 atau 10 menit saja.

Konsentrasi dan fokus anak penderita ADHD sangat mudah pecah. Mereka tidak mampu berkonsentrasi dengan baik, cepat bingung, pikirannya kacau, dan tidak mempedulikan perintah atau arahan dari orang-orang di sekitarnya.

#5. Cerebral Palsy (Lumpuh Otak)

Cerebral Palsy atau lumpuh otak merupakan gangguan pada otot, gerakan, atau bahkan postur tubuh akibat adanya perkembangan yang tidak normal, cedera atau kerusakan pada otak (brain injury).

Kerusakan otak yang ada biasanya sudah terjadi sejak masa kehamilan. Namun gejalanya baru akan tampak ketika sang anak masih dalam keadaan bayi atau bahkan usia pra sekolah. Kerusakan pada otak yang terjadi akan mempengaruhi fungsi kerja motorik.

5 Penyebab Anak Telat Bicara dan Bagaimana Cara Menanganinya

Penyebab Anak Telat Bicara dan Bagaimana Cara Menanganinya

Penyebab Anak Telat Bicara dan Bagaimana Cara Menanganinya – Telat bicara merupakan suatu kondisi pada anak yang usianya telah lebih dari 2 tahun, namun ia masih belum mampu berkomunikasi dengan baik (menyatakan keinginannya dengan baik dengan kosa kata) atau bahkan hanya mampu mengucapkan satu dua patah kata saja.

Bagi anak-anak pada umumnya, pada usia 1,5 tahun mereka seharusnya sudah mampu mengucapkan secara konsisten setidaknya 5 kosa kata yang tidak asing baginya. Misalnya seperti mengucapkan kata mama, papa, mau, pangku, minum, dan sebagainya.

Kemudian di usia 2 tahun, anak-anak pada umumnya seharusnya sudah mampu mulai merangkai kalimat dari kata-kata yang sederhana. Contohnya seperti “bunda mau minum”, “kakak main bola”, “ayah naik mobil” dengan maksud meminta.

Permasalahan anak terlambat bicara dialami sekitar 5 hingga 10 persen anak-anak balita dan pra sekolah. Menurut data yang ada, anak-anak laki-laki lebih dominan mengalami permasalahan terlambat bicara ketimbang anak-anak perempuan.

Penyebab Anak Telat Bicara

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab seorang anak mengalami masalah terlambat bicara. Faktor-faktor yang bisa menjadi penyebab masalah terlambat bicara pada anak di antaranya adalah sebagai berikut.

#1. Memiliki Masalah Keturunan

Salah satu faktor yang dianggap menjadi penyebab masalah keterlambatan bicara pada anak adalah faktor keturunan. Biasanya, anak yang mengalami keterlambatan bicara mempunyai riwayat keturunan yang memiliki gangguan serupa. Namun faktor ini masih perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya.

#2. Terlalu Banyak Menonton di Televisi

Televisi adalah penyakit. Mungkin seperti itulah ucapan yang pantas diucapkan untuk menggambarkan keadaan saat ini. Akibat televisi, anak-anak akan mengalami banyak gangguan perkembangan pada otaknya.

Anak-anak yang terlalu sering menonton televisi akan menjadi pendengar yang bersifat pasif. Mereka hanya akan memperoleh informasi tanpa mencernanya terlebih dahulu. Aktifitas seperti itu sangat mempengaruhi perkembangan otak pada anak.

Lebih dari itu, anak-anak yang terlalu banyak menonton televisi bisa memperoleh dampak buruk lainnya. Mereka bisa saja melihat tontonan kekerasan, pelecehan, seksual, dan sebagainya yang mengakibatkan anak menjadi traumatis.

#3. Kurangnya Komunikasi Antara Orang Tua dan Anak

Kesadaran orang tua untuk senantiasa berinteraksi dan berkomunikasi dengan sang buah hati sangat dibutuhkan. Komunikasi yang baik antara orang tua dan buah hati dapat merangsang perkembangan anak dalam memperbanyak kosa kata yang ia miliki.

#4. Mempunyai Masalah Pada Indera Pendengaran

Masalah pada indra pendengaran juga merupakan salah satu penyebab anak telat bicara. Kondisi ini jelas bisa mempengaruhi kemampuan sang anak dalam belajar untuk berkomunikasi. Pendengaran yang bermasalah (sering kali akibat infeksi pada telinga) akan mengakibatkan anak kesulitan dalam mendengar, meniru, memahami, serta mempergunakan kosa kata.

#5. Mengalami Gangguan Dalam Perkembangan Otak

Terdapatnya gangguan dalam perkembangan otak juga sering menjadi penyebab utama terjadinya masalah terlambat bicara pada anak. Perkembangan pada otak, terutama pada bagian oral-motor yang terganggu dapat mempengaruhi kemampuan anak untuk berkomunikasi.

Setelah kita mengetahui berbagai penyebab anak telat bicara, kini saatnya kita membahas cara mengatasinya. Salah satu cara mengatasi gangguan dalam perkembangan otak anak adalah dengan memberikannya BRAINKING PLUS. BRAINKING PLUS merupakan nutrisi otak terbaik bagi anak untuk mengoptimalkan fungsi kerja otak dan perkembangannya.

Solusi dan Cara Menangani Anak Telat Bicara

Solusi Penanganan Anak Terlambat Bicara

Penanganan anak telat bicara sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Harapannya tak lain agar gejala yang dialami sang anak tidak bertambah parah. Jika sekiranya orang tua menemukan gejala keterlambatan bicara pada anak, maka cobalah untuk segera melakukan penanganan berikut.

#1. Melakukan konsultasi ke dokter atau psikolog

#2. Perbanyak waktu dan kesempatan bagi anak untuk bermain sekaligus berinteraksi dengan teman-teman seusianya.

#3. Sudah sepatutnya orang tua sering berkomunikasi dengan sang buah hati sekalipun ia belum bisa berkomunikasi dengan baik.

#4. Ajarkan kosa kata kepada sang buah hati dengan pengucapan yang jelas.

#5. Berikan BRAINKING PLUS untuk memenuhi asupan nutrisi otak demi mengoptimalkan fungsi kerja otak serta mengatasi gangguan pada perkembangan otak.