Mengenali Gejala Anak Autis Sejak Dini

gejala autis

Mengenali Gejala Anak Autis Sejak Dini – Sebagai orang tua, memperhatikan tumbuh kembang anak adalah hal yang sudah sepatutnya dilakukan. Ada baiknya kita mempelajari gejala-gejala yang timbul jika ada gangguan perkembangan pada buah hati kita. Misalnya seperti memahami gejala anak autis.

Autis atau autisme merupakan salah satu bentuk gangguan tumbuh kembang pada anak yang terbilang kompleks. Perkembangan syaraf akan terganggu dan mempengaruhi kemampuannya dalam berinteraksi, bertingkah laku, serta berkomunikasi.

Mengetahui gejala-gejala autis pada anak perlu dilakukan sedini mungkin. Dengan begitu, sebagai orang tua, kita dapat segera melakukan penanganan selagi gangguan ini masih dapat ditangani. Harapannya, anak tersebut masih dapat dioptimalkan tumbuh kembangnya, atau setidaknya gejala anak autis yang dialaminya dapat ditekan.

Ciri Umum dan Gejala Anak Autis

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Autisme merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhi anak dalam kemampuan berinteraksi, prilaku, serta komunikasi. Oleh sebab itu, gejala-gejala yang timbul pun tidak akan jauh dari 3 hal tersebut.

Ada cukup banyak gejala autisme yang dapat diketahui. Berikut ini merupakan beberapa gejala anak autis yang cukup umum dan sering terjadi.

#1. Gejala Anak Autis Dalam Hal Komunikasi

Akibat gangguan perkembangan yang dialaminya, anak penderita autisme memiliki gangguan dalam berkomunikasi. Penderita autisme biasanya berbicara dengan intonasi yang datar, terkesan kaku, dan terkadang menggunakan bahasa baku. Seolah-olah mereka tidak dapat mengungkapkan ekspresi yang mereka rasakan sendiri.

Menurut data yang ada, 4 dari 10 anak penderita autis hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja atau tidak bisa sama sekali. 2 Hingga 3 anak mampu mengucapkan beberapa kata pada usia 12-18 bulan, kemudian kehilangan kemampuannya. Sedangkan sisanya baru mampu berbicara saat mencapai usia tertentu.

#2. Gejala Dalam Tingkah Laku

Anak penderita autis biasanya memiliki tingkah laku yang terlihat cukup aneh. Di antaranya adalah terdapat suatu pola yang diulang-ulang dalam prilakunya. Mereka akan merasa terganggu apabila terjadi perubahan pada rutinitasnya.

Salah satu contoh yang cukup sering terjadi pada anak autis adalah menyusun benda. Sering kali, mereka sangat gemar menyusun atau menumpukkan benda-benda yang sebenarnya tak ada gunanya. Namun mereka sangat terobsesi pada aktifitas seperti itu.

#3. Gejala Dalam Berinteraksi Sosial

Anak-anak autis terlihat seperti memiliki dunianya sendiri. Mereka tidak terdorong untuk berinteraksi dan bersosial dengan lingkungannya. Mulai dari sebatas merasa canggung ketika berkumpul, mengeluarkan perkataan yang menyinggung orang lain, hingga benar-benar memisahkan diri dari kehidupan bersosial.

Saat diajak berkomunikasi, penderita autis akan menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya. Selain itu, mereka juga tidak menyukai bergaul dengan teman-teman seusianya dan lebih memilih bermain seorang diri.

#4. Gejala Anak Autis Dalam Kepekaan Terhadap Lingkungan

Bukan hanya tidak memiliki kemampuan dalam berinteraksi sosial, anak-anak autis juga tidak memiliki empati terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk memahami perasaan orang lain.

Akan tetapi, kemampuan berempati ini masih dapat diatasi melalui terapi. Mereka perlu dilatih perlahan-lahan supaya lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya dan lebih mempertimbangkan perasaan orang lain.

#5. Gejala Dalam Perkembangan

Anak penderita autis sering kali terlihat tidak seimbang dalam tumbuh kembangnya. Dalam beberapa hal, mereka akan terlihat dapat berkembang dengan sangat cepat. Namun dalam hal lainnya, mereka justru akan terlihat sangat lamban.

Salah satu kasus yang cukup sering terjadi adalah perbandingan perkembangan intelektual dengan perkembangan bicaranya. Dalam bidang intelektual, mereka sangat cepat menguasainya. Namun dalam berkomunikasi, mereka akan cenderung tampak tidak mengalami perkembangan.

Faktor-faktor Penyebab Autis Pada Anak

Faktor-faktor Penyebab Autis Pada Anak

Faktor-faktor penyebab autis pada anak – Penelitian mengenai autisme sudah sangat sering dilakukan. Namun sayangnya, hingga saat ini penyebab autis pada anak masih belum bisa diketahui secara pasti. Penelitian masih perlu dilakukan lebih lanjut lagi untuk mengetahui apa penyebab utama autis pada anak.

Menurut data yang ada, sekitar 85% anak-anak penderita autis tidak diketahui penyebabnya. Kondisi tersebut dikenal juga dengan istilah idiopathic autism. Walaupun begitu, para ilmuwan juga sudah menduga beberapa faktor yang dianggap berpotensi menjadi pemicu terjadinya autis pada anak.

Seperti yang kita ketahui, autisme merupakan suatu kondisi pada anak dimana terdapat gangguan pada perkembangan sel syarafnya. Akibatnya, hal itu akan mempengaruhi kemampuan sang anak dalam berkomunikasi, tingkah laku dan berinteraksi sosial.

Penyebab Autis Pada Anak

Faktor keturunan (genetika) dan faktor lingkungan diduga mempunyai peranan penting dalam menyebabkan autisme pada anak. Namun pada kasus-kasus lainnya, autisme pada anak juga dapat dipicu karena penyakit lainnya.

Penyebab Autis Pada Anak Karena Faktor Keturunan (Genetika)

Para ahli menduga bahwa faktor keturunan merupakan salah satu pemeran utama dalam menyebabkan autisme pada anak. Hal tersebut diakibatkan karena adanya peningkatan resiko autis pada anak-anak yang memiliki saudara pengidap autis pula.

Hal itu juga terbukti melalui fakta banyaknya pengidap autisme pada anak kembar identik yang memiliki gen serupa. 90% Anak pengidap autis memiliki saudara kembar yang mengidap autis pula. Selain itu, jika seorang anak memiliki saudara yang mengidap autisme, maka ia juga memiliki potensi lebih tinggi untuk mengidap autisme.

Penyebab Autis Pada Anak Karena Faktor Lingkungan

Selain faktor keturunan (genetika), faktor lainnya yang diduga memiliki peranan penting dalam menyebabkan autisme adalah faktor lingkungan. Walaupun masih dalam proses penelitian lebih lanjut, namun faktor lingkungan diduga kuat mampu memicu autisme pada anak.

Faktor lingkungan yang dimaksud meliputi banyak hal, di antaranya adalah kondisi usia orang tua, riwayat kesehatan keluarga, komplikasi ketika masa kehamilan dan kelahiran, hingga infeksi virus, racun serta polusi yang mencemari lingkungan sekitarnya.

Faktor-faktor Lainnya yang Juga Diduga Menjadi Penyebab Autis Pada Anak

Faktor-faktor yang menyebabkan seorang anak mengidap autis sering kali berbeda-beda kondisinya. Itulah sebabnya para ahli kesulitan untuk memastikan faktor penyebab utama autis pada anak. Autisme diduga timbul dan dipicu oleh faktor-faktor yang berbeda pada setiap pengidapnya.

Melihat kasus-kasus pengidap autisme yang telah ada, para ahli mulai menyimpulkan beberapa faktor lain yang juga diduga dapat memicu terjadinya autisme pada anak. Beberapa faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

  • Melihat autisme yang lebih banyak dialami oleh anak laki-laki, para ahli mengungkapkan bahwa anak laki-laki berpotensi 4 hingga 5 kali lebih besar terserang autisme ketimbang anak-anak perempuan.
  • Orang tua yang mengidap autisme berisiko memiliki anak pengidap autisme pula. Kadang kala, autisme juga dipicu karena orang tua atau riwayat keturunan sebelumnya memiliki gangguan komunikasi dan sosial.
  • Mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan kimia, minuman keras, dan sebagainya selama dalam masa kehamilan juga diduga dapat menjadi penyebab autisme pada anak.
  • Autisme juga dapat timbul karena dipicu oleh gangguan-gangguan perkembangan lainnya seperti Cerebral Palsy (lumpuh otak), down syndrome, sindrom Tourette, neurofibromatosis, distrofi otot, dan lain sebagainya.
  • Bayi yang terlahir dalam keadaan prematur, terlebih lagi yang terlahir pada usia kehamilan 26 minggu ke bawah, memiliki risiko mengidap autisme cukup tinggi daripada bayi yang terlahir pada usia normal.
  • Seorang anak juga memiliki risiko mengidap autisme apabila ia memiliki saudara kandungnya yang juga pengidap autisme.
  • Usia orang tua yang sudah terlalu tua ketika mengandung diduga pula dapat memicu terjadinya autisme pada anak yang dikandungnya.

Satu hal yang perlu ditekankan kembali, faktor-faktor tersebut saat ini belum dapat dipastikan 100% benar. Para ahli dan peneliti masih berupaya untuk mempelajari lebih lanjut lagi mengenai penyebab utama terjadinya autisme ini.

Brainking Plus Solusi Terbaik Pengobatan Autisme

Dalam istilah kedokteran, autis atau autisme dikenal dengan istilah Autism Spectrum Disorder (ASD). Autis merupakan suatu kelainan dimana perkembangan sel saraf anak mengalami gangguan. Sehingga ditandai dengan keterbatasan dalam berkomunikasi, interaksi, serta tingkah lakunya sehari-hari.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2010 lalu, terdapat sekitar 2.400.000 orang yang mengidap autisme dari 237.500.000 penduduk Indonesia. Dalam kata lain, hampir 1 persen masyarakat Indonesia merupakan pengidap autisme.

Oleh karena itu, sangat penting untuk senantiasa mewaspadai gejala autisme sejak usia dini. Terlambat sedikikt saja dalam penanganan autisme dapat berakibat fatal terhadap masa depan sang buah hati.

Gejala-gejala Autis biasanya akan mulai terlihat ketika seorang anak memasuki usia ketiganya. Gejala-gejala autisme yang akan tampak biasanya dicirikan dengan komunikasi yang kurang baik, jarang berinteraksi, atau sering melakukan aktifitas berulang.

Solusi Penanganan Serta Pengobatan Autisme

Pengobatan Autis
www.breakthrough-generation.com

Betul adanya bahwa autisme tidak bisa disembuhkan dengan obat farmasi. Bidang kedokteran belum menemukan obat-obatan kimia yang mampu menyembuhkan autisme. Terlebih lagi kelainan ini tidak bisa dikategorikan sebagai penyakit.

Namun Anda tak perlu khawatir. Bukankah sangat tidak masuk akal apabila Tuhan yang Maha Adil menciptakan suatu masalah tanpa memberikan jalan keluarnya? Walaupun autisme tidak bisa disembuhkan dengan obat-obatan kimia, namun kelainan ini tetap bisa diatasi.

Beberapa cara penanganan autisme yang bisa dilakukan antara lain ialah sebagai berikut:

#1. Pengobatan Biomedik dan Obat-obatan

Pengobatan biomedik merupakan cara penanganan autisme menggunakan obat-obatan kimia dari dokter. Teknik pengobatan seperti ini tidak menyembuhkan, hanya sebatas mengurangi gejala akibat autis yang diderita. Karena seperti yang kita ketahui, belum ada obat dokter yang bisa menyembuhkan autisme.

Selain keefektifannya yang kurang baik, pengobatan biomedik seperti ini juga memiliki banyak efek samping. Pengobatan seperti ini akan sangat mempengaruhi masa depan penderita autis. Terlalu beresiko bagi anak-anak penderita autis yang masih di bawah umur.

#2. Terapi Perilaku dan Komunikasi

Terapi perilaku dan komunikasi merupakan teknik penanganan autisme yang lebih aman ketimbang pengobatan biomedik. Namun pemilihan terapi seperti ini tidak akan memperbaiki kerusakan atau gangguan pada perkembangan saraf anak penderita autisme dan membutuhkan waktu yang lama.

Perlu diketahui, tujuan dari terapi perilaku dan komunikasi adalah membangun tingkah laku anak agar lebih terstruktur. Selain itu, terapi ini juga akan meningkatkan kemampuan anak penderita autis dalam berkomunikasi dan berinteraksi.

Terapi perilaku dan komunikasi meliputi beberapa jenis, di antaranya adalah terapi ABA (Applied Behavior Analysis), terapi okupasi, terapi wicara, terapi sosial, terapi fisik, terapi bermain, dan yang terakhir adalah terapi perkembangan.

#3. Konsumsi Brainking Plus

Brainking Plus disebut-sebut sebagai pelopor nutrisi otak di Indonesia. Produk yang sangat efektif dalam menangani autisme serta berbagai masalah otak dan saraf lainnya ini merupakan temuan anak bangsa dan telah dikenal sebagai nutrisi otak terbaik yang pernah ada.

Dari sekian banyak cara penanganan autisme, Brainking Plus-lah yang menjadi solusi terbaik dalam menangani masalah autisme. Selain itu, Brainking Plus dibuat dari olahan berbagai macam bahan alami yang aman dikonsumsi, sehingga tidak memiliki efek samping.

Selama lebih dari 10 tahun Brainking Plus berdiri, produk ini telah mengalami banyak sekali penyempurnaan. Dan selama itu pula, Brainking Plus telah mendapatkan banyak sekali testimoni positif dalam menangani autisme serta masalah gangguan otak lainnya.

Jutaan anak penderita autisme telah terbantu dengan kehadiran Brainking Plus. Khasiat yang terbukti dan keamanan yang terjamin menjadi alasan mengapa produk ini sangat layak dipilih untuk menangani masalah autisme.

Tidak hanya autisme, Brainking Plus juga sangat berguna dalam menangani berbagai masalah otak lainnya. Mulai dari hiperaktif, ADHD, Cerebral Palsy (lumpuh otak), down syndrome, mengobati berbagai penyakit, bahkan hingga mampu meningkatkan kecerdasan.